Server sync... Block time in database: 1615391772, server time: 1664509221, offset: 49117449

Antara Harga Diri dan Kesombongan


Kita tentu sudah tahu, bahkan sangat paham tentang salah satu sikap mental ini. Sejak kecil, kita telah diperkenalkan dan diajarkan tentang kesombongan sebagai sesuatu yang buruk. Meski demikian, kita seringkali tidak sadar ketika sebenarnya sedang tinggi hati, ketika kita sedang menunjukkan keangkuhan–ketika kita sedang bertindak sombong dalam bentuknya yang paling halus.


3W72119s5BjVs3Hye1oHX44R9EcpQD5C9xXzj68nJaq3CeRjmJ4cqDDVHvWQAyf2ixxuMH83F1kN5pikBJKGXcMFQEqjz7XC7h3YfQREFnFavDGqxJSFsc.jpeg


Harga diri yang tinggi adalah cara berpikir yang memungkinkan kita untuk menghargai, memercayai, dan menghormati diri kita. Bukan berarti kita berpandangan diri kita sempurna, melainkan rata-rata orang dengan harga diri tinggi akan menyadari beberapa kekurangan yang dimiliki. Hal ini memungkinkan kita untuk menerima pasang surut dalam hidup karena kita menghargai dan menghormati diri kita. Dengan memiliki harga diri yang tinggi, kita akan memahami segala sesuatu tidak selalu tentang kita, tidak merasa sakit hati, dan tidak terlalu reaktif.

Harga diri yang terlalu tinggi tidaklah baik, sama seperti harga diri yang rendah. Namun, bedakan antara harga diri tinggi yang sehat dan kesombongan. Harga diri tinggi bukanlah menjadi egois, menganggap diri kita sempurna, atau lebih baik dari orang lain. Sementara itu, arogansi adalah ketika harga diri seseorang menyimpang dari kenyataan dan mendominasi hidup mereka. Namun, jenis konsep diri narsistik ini tidak selalu merupakan perkembangan dari harga diri yang positif. Penelitian menunjukkan, keyakinan diri yang tinggi seringkali adalah upaya kita untuk menutupi citra diri yang buruk, perasaan malu, dan kemarahan. Orang dengan gangguan kepribadian narsistik juga lebih rentan terhadap masalah kesehatan mental, seperti depresi dan kecemasan, perasaan tidak berdaya, dan memiliki hubungan pribadi yang tidak stabil.

Ada berbagai faktor yang memengaruhi tinggi rendahnya harga diri seseorang. Faktor yang memengaruhi harga diri termasuk apakah kebutuhan, pikiran, perasaan, kontribusi, dan ide-ide kita dihargai atau tidak. Faktor lain seperti berpikir positif, riwayat keluarga, pandangan pribadi, teman-teman kita, serta panutan atau sosok yang kita puja juga memengaruhi harga diri kita. Mengalami peristiwa hidup yang menantang atau trauma seperti perceraian, kekerasan, rasisme, pengabaian, kemiskinan, bencana alam, ditindas, atau diperlakukan buruk juga berujung pada rendahnya harga diri. Kemampuan kita dalam mengatasi sesuatu, sikap positif dari pandangan pribadi, dan ketahanan kita akan memberi pengaruh pada harga diri kita setelah mengalami peristiwa yang negatif.


Comments 2